Rabu, 21 Januari 2009

Renungan Hati

Cinta adalah Fithrah yang dititipkan Allah kepada setiap Makhluk-Nya. Dan dengan cinta manusia bisa menjadi hina atau mulia. Adalah cinta bila seseorang menjadi merdeka karenanya. Dan bukan cinta, bila kita justru “terjajah” karenanya. Jika kita mencintai orang lain dan kita sering “menjajah” kemerdekaanya atau malah justru semakin jauh dari kemerdekaan diri, mari kita coba pertanyakan sekali lagi. Cintakah yang kita rasakan? Atau, Hanya ambisi untuk memiliki?.

Mencintai seseorang berarti menjaganya dari hal-hal yang dapat Merendahkan, Melecehkan, Mempermalukan, dan Menjajah orang yang dicintainya. Bagi orang-orang yang proaktif, cinta selalu dipandang sebagai kata kerja yang produktif, sehat, dan tulus. Orang yang memandang cinta sebagai cinta sebagai “Kata Kerja” akan selalu melakukan hal-hal Positif dan Terhormat. Namun, orang-orang yang hanya memandang cinta sebagai “Perasaan”, maka mereka cenderung bersifat posesif (takut kehilangan), pencemburu buta, lemah dan memiliki sebuah ketergantungan yang tidak sehat. Benarkah itu CINTA? Atau, sekedar “kekaguman” yang di besar-besarkan, sehingga seolah-olah begitu banyak “berkorban”?
Padahal, itu hanyalah kekaguman yang menyiksa kita. Cinta kepada Allah adalah cinta yang terjaga dari hal-hal Syubhat (Meragukan). Apalagi Haram, baik dalam mendapatkannya atau mengarunginya. Cinta yang memerdekakan jiwa. Cinta yang siap menerima perbedaan. Cinta itu akan menjadikan orang yang mengarunginya justru semakin “Menjaga Diri” dan diri orang yang dicintainya. Bukan melakukan hal-hal yang membuat harga dirinya dan orang yang dicintainya “Hancur”.

Wahai perempuan, saudariku… mari belajar lebih benar tentang harga diri kita yang semakin lama hanya semakin dinilai dengan ukuran-ukuran dan standarisasi fisik. Renungkanlah tentang kaum Hawa, tentang peradaban yang akan kita wariskan kepada putra-putri kita. Bagaimana kita mungkin mempertaruhkan sebuah harga diri pada seorang pacar? Lalu, bila nanti anak-anak negeri ini lahir dari sebuah “Kecelakaan Sejarah” yang dilakukan oleh Ibunya dan pasangan Ibunya. Bagaimana kita menjelaskan tentang moral dan kebaikan kepada mereka? Tidakkah kita akan terus-menerus di tuntut oleh anak-anak kita? Semoga kita sempat merenungkan semua itu.

Saudariku perempuan… Mari belajar lebih benar tentang harga diri. Mari selalu bertanya pada diri sendiri, atas dasar apa kita mencintai dan dicintai? Sudahkah kita menghormati diri kita sehingga kita pantas dihormati orang lain? Apa yang kamu rasakan saat perempuan-perempuan lain dipacari oleh mantan pacar kamu? Tidakkah kamu akan merasa bahwa mereka adalah seorang perempuan yang nasibnya boleh jadi sama dengan kamu beberapa bulan atau tahun lagi? Diputuskan oleh orang yang berpaling dari kamu?
Saudariku perempuan… Bukankah sangat menyakitkan menandang gelar “Mantan pacar si A”? Dan si A dengan PDnya dan tak berperasaan mencari saudari-saudarimu yang lain? Pacaran sewaktu-waktu dapat putus hanya karena sedikit ketidakcocokan.

Wahai laki-laki, saudaraku… Mari belajar lebih benar… Tentang harga dirimu dan harga diri perempuan-perempuan disekitar kamu. Atas dasar apa kamu mencintai mereka? Karna kulit mereka yang terlihat putih bersinar? Karna wajah mereka yang cantik nan rupawan? Atau karena dia begitu terhormat? Fithrah laki-laki mempunyai kecenderungan untuk menyukai kecantikan dan keindahan. Memang, laki-laki berhak memilih. Tapi dimana pula kau tempatkan harga dirimu, bila seorang perempuan dapat membuatmu terpesona hanya karena kecantikannya? Atau menyukai kamu karma hal-hal yang kau tampakkan baik di hadapan mereka? Bukankah ada kecenderungan-kecenderunganmu dan dia untuk menutupi kekurangan-kekurangan diri? Harga dirimu, Wahai saudara laki-laki, Terletak pada sejauh mana engaku memperlakukan secara terhormat kaum Ibumu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda disini